Dijual sebuah tanah di Desa Petir, Darmaga Bogor dengan luas akta tanah 700 m².
Saat ini lahan masih berupa tanah kosong dan tanaman-tanaman. Dekat dengan mata air, sangat potensial jika dijadikan kolam untuk budidaya ikan air tawar seperti bawal, mas, nila dan lain-lain. Cocok juga jika dibangun sebuah villa. Pemandangannya indah dan udara yang sejuk.
Alamat lengkap lokasi: Kp Sempur, Desa Petir, Kec. Darmaga, Bogor.
Ikan air tawar merupakan salah satu alternatif hasil perikanan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Potensi produksi budidaya air tawar di perairan umum, kolam air tawar, saluran irigasi, dan mina-padi (nila, mas, gurame, lele, patin, bawal air tawar, dan lain-lain) seluas 13,7 juta ha diperkirakan sebesar 5,7 juta ton/tahun, dan baru diproduksi sebesar 0,3 juta ton (5,5 %) pada tahun 2003 (http://www.dkp.com). Salah satu ikan air tawar yang saat ini diminati adalah ikan lele (Clarias batrachus).
Lele adalah ikan yang hidup didasar kolam, kebiasaan makannya adalah bervariasi, mereka makan serangga, cacing, sejenis udang kecil, decomposing organic matter, juga tumbuh-tumbuhan dan masih bisa hidup jika lingkungan hidupnya sedikit tidak bersahabat suatu misal lingkungan yang kurang oksigen, dimana ikan lain sudah susah hidup tetapi lele masih. Ikan lele tumbuh dengan cepat dan resistant terhadap lingkungan. Pada masa mudanya para lele ini adalah pemakan plankton dan hewan air yang berukuran kecil, sedangkan pada masa muda dan dewasa beralih menjadi pemakan detritus. Pada usia satu tahun berat badannya kira-kira lebih dari 100 gram dan bisa hidup lama sehingga panjang badan bisa mencapai sekitar 2 meter. Sebenarnya ikan lele adalah ikan air tawar, tetapi ada pula saudaranya yang hidup di air laut. Ikan lele ini tersebar didunia mulai dari Eropa sampai Amerika dan banyak sekali jenisnya. Beberapa tahun yang lalu di Indonesia diperkenalkan satu jenis lagi ialah lele dumbo, menilik dari namanya lele ini berukuran super dan pertumbuhannya cepat sekali sehingga ukuran konsumsi bisa didapatkan dalam waktu yang relatif singkat.
Ikan lele (Clarias batrachus) adalah ikan air tawar yang bernilai ekonomis penting dan sudah tersebar luas di Indonesia. Kebutuhan lele konsumsi di dalam negeri terus mengalami peningkatan sejalan dengan semakin populernya lele sebagai hidangan yang sangat lezat. Kebutuhan lele konsumsi Provinsi Banten dan Ibu kota Jakarta mencapai 7 – 9 ton/hari, sedangkan untuk Kabupaten Serang mencapai 1,5 ton/hari. Produksi ikan lele di Indonesia dari tahun 1993 hingga tahun 2002 terus mengalami peningkatan baik pada budidaya kolam, sawah ataupun keramba.
Ukuran konsumsi ikan lele yang disukai konsumen adalah sekitar 25 cm panjang dan beratnya 200 gram, bisa didapatkan dalam jangka waktu 4 sampai 6 bulan pemeliharaan dikolam. Permintaan ikan lele untuk konsumsi tak pernah surut. Sebagai gambaran, kebutuhan rata-rata per unit warung tenda di Jabodetabek berkisar antara 7 sampai 8 kg per hari. Ini berarti dalam sehari pasokan lele untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya saja dapat mencapai 100 ton/ hari. Sedang untuk daerah bogor minimal setiap harinya dibutuhkan sebanyak 1 ton / hari.
Info Penjualan :
Kami menerima pesanan lele baik bibit, indukan ataupun ukuran konsumsi untuk daerah Jabodetabek dengan harga terjangkau.
Ikan Lele yang kami jual adalah jenis Lele dumbo.
Kami menerima pesanan dengan jumlah besar dan juga menerima sistem pesanan secara continue (kontrak).
Untuk info lebih lanjut silahkan email ke: hanggadamai(at)gmail(dot)com dengan Subyek "Beli Lele"
atau telp (no sms) ke 085692061070 atas nama Hangga Damai.
Lingkungan produk pangan pada dasarnya rentan terhadap kemungkinan terjadinya pencemaran baik pencemaran fisik, kimia, mikrobiologis dan biologi. Kasus-kasus keracunan pangan pada umumnya akibat pencemaran pangan oleh mikroba pathogen atau pembentuk racun. Terjadinya kasus-kasus keracunan sebagaian besar diakibatkan oleh kondisi sanitasi yang tidak memadai. Salah satu cara untuk mencegah pencemaran pangan adalah dengan cara sanitasi.
Menurut Undang-Undang RI No.7 tahun 1996 tentang Pangan, sanitasi pengan didefinisikan sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan bertumbuh dan berkembang biaknya jasad renik pembusuk dan pathogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan dan membahayakan manusia. Para pekerja yang menangani makanan juga sering menyebabkan konyaminasi mikrobiologis pada bahan pangan. Data epidemiologi menunjukkan behwa 5% dari letusan penyakit dilaporkan di Inggris dan Wales, 10% di New South Wales Australia, dan 20% di Amerika, disebabkan , bahan pangan terkontaminasi langsung oleh pekerja yang menangani makanan.
Sumber kontaminasi produk yang paling utama berasal dari peralatan, pekerja, sampah, serangga, tikus, dan factor lingkungan seperti udara dan air. Dari seluruh sumber kontaminasi tersebut, pekerja adalah paling besar pengaruh kontaminasinya. Kesehatan dan kebersihan pekerja mempunyai pengaruh besar pada mutu produk yang dihasilkannya, sehingga perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Sebanyak 2,5 % penyebaran penyakit melalui makanan diakibatkan oleh pekerja yang menderita infeksi dan hygiene perorangan yang buruk. Beberapa mikroba berbahaya seperti Stapylococcus aureus, Salmonella, Clostridium perfringens, dan Streptococcus dapat ditularkan melalui kulit, hidung, mulut, dan tenggorokan seta dapat dengan mudah dipindahkan ke makanan.
Jadi selalu usahakan selalu menjaga kebersihan diri untuk mencegah penyakit terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Suhu berfungsi untuk mematangkan produk juga untuk mematikan bakteri sehingga produk menjadi awet. Pada ikan yang mengalami proses perebusan akan mengalami hidrolasi kalogen, akibatnya kulit menjadi lembek, jaringan subcutaneous terbongkar dan ikatan antara kulit dengan ototmenjadi lemah. Suhu yang tinggi dan penambahan garam dalam proses pemindangan dapat mengkontaminasi produk karena terjadinya pengkaratan dan korosi wadah. Pengkaratan terjadi karena reaksinya besi denga oksigen dan uap air, sedangkan korosi mengakibatkan terlarutnya oksida logam dalam air bersuhu tinggi dan larutan garam. (Anderson, 1963).
Menurut Zaitsev et al (1969), suhu berpengaruh terhadap laju penetrasi garam kedalam sel-sel jaringan ikan. Kenaikan suhu 1°C dapat menybabkan terjadinya denaturasi protein yang menyebabkan keluarnya air dari daging ikan. Hal ini juga dapat menyebabkan penetrasi garam ke dalam daging ikan. Suhu dan lamanya perebusan menyebabkan perubahan konsentrasi, citarasa dan daya awet dari produk yang diperoleh disamping menentukan kondisi mikroorganisme dari produk yang dihasilkan (Ilyas dan Hanifah, 1980).
<supportLists]—>b. Garam
Untuk mendapat hasil olahan yang baik, hendaknya digunakan garam dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Menurut Afrianto dan Liviawati (1989), garam murni adalah garam yang mempunyai kandungan NaCl yang cukup tinggi yaitu sekitar 95% dan sedikit sekali mengandung unsur-unsur yang dapat menimbulkan kerusakan misalnya Mg dan Ca yang umumnya dijumpai di garam rakyat. Garam yang digunakan dapat berbentuk kristal atau larutan, jumlah garam yang digunakan dalam pemindangan ikan berkisar antara 5-40% dari berat total ikan, tergantung selera konsumen.
c. Lama perebusan
Menurut Nitibaskara (1980) pemanasan selama 6 jam ternyata tidak berpengaruh secara nyata terhadap komposisi dari asam-asam amino esensial dari ikan pindang sehingga tidak mempengaruhi mutu protein secara umum. Menurut Afrianto dan Liviawati (1989), lama perebusan tidak dapat ditentukan secara pasti. Bila terlalu cepat hasil pemindangan kurang sempurna, tetapi jika terlalu lama sering mengakibatkan tubuh ikan menjadi kering, hangus atau periuk menjadi pecah. Sebagai patokan waktu perebusan ikan berkisar 2-12 jam, tergantung ukuran ikan yang dipindang.
d. Wadah
Wadah yang digunakan dalam pembuatan pindah adalah badeng yang terbuat dari seng. Badeng ini digunakan untuk memasak atau merebus ikan. Salah satu logam yang sering digunakan dalam pembuatan alat masak adalah seng. Selain untuk mempercepat perambatan panas, seng juga berfungsi untuk melindungi bahan dari karat yang disebabkan udara, air dan air asin juga korosi. Karat dan hasil korosi yang terbentuk dapat menyebabkan makanan terkontaminasi (Anderson, 1963).
Wadah stainless steel mengandung logam-logam , seperti copper, nikel, besi, magnesium dan chromium. Logam-logam tersebut dapat berpindah kebahan dapat mengakibatkan terjadinya peristiwa osmosis, dengan adanya peristiwa tersebut sel mengalami plasmolisis, kandungan air turun, dan mikroorganisme akan mati.
Fermentasi merupakan salah satu cara pengawetan bahan pangan yang umumnya bertujuan mengurangi jumlah mikroba. Pada proses fermentasi, mikroba yang dikehendaki diusahakan tumbuh dan berkembang biak sehingga populasinya besar dan metabolismenya ditingkatkan. Salah satu produk fermentasi ikan yang sangat populer di Indonesia adalah ikan peda.
Peda merupakan produk fermentasi yang dibuat dengan penambahan garam dalam jumlah tinggi yaitu dengan perbandingan berat ikan dan garam kira-kira 3:1, atau sekitar 25 sampai 30%. Jenis ikan yang biasa difermentasi menjadi peda adalah ikan laut dari jenis ikan kembung betina (Rastrelliger neglectus) dan ikan kembung jantan (Rastrelliger kanagurta).
Pada fermentasi ikan peda, terjadi penguraian senyawa kompleks protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dalam kondisi yang diatur sesuai kebutuhan. Peda yang bermutu baik berwarna merah kecoklatan karena terjadi oksidasi lemak, sedangkan cita rasa yang khas pada peda diduga disebabkan oleh terbentuknya senyawa metil keton selama fermentasi.
Penggunaan garam dalam fermentasi bertujuan untuk menyeleksi mikroba tertentu dan menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat menghasilkan racun. Meskipun mengandung garam dalam jumlah yang tinggi, pada ikan yang difermentasi masih terus berlangsung proses autolisis terhadap protein dan lemak, juga berlangsung proses enzimatis lainnya. Perbedaan konsentrasi garam yang digunakan pada proses fermentasi akan memberikan hasil atau mutu peda yang berbeda pula.
Ikan merupakan salah satu sumber gizi penting bagi proses kelangsungan hidup manusia karena ikan mengandung zat gizi utama berupa protein, lemak, vitamin dan mineral. Protein ikan sangat diperlukan oleh manusia karena selain lebih mudah dicerna juga mengandung asam amino dengan pola yang hampir sama dengan pola asam amino yang terdapat di dalam tubuh manusia.
Di samping keuntungan-keuntungan yang didapatkan dari ikan, ikan juga memiliki kelemahan salah satunya yaitu cepat membusuk. Proses pembusukan pada ikan dapat disebabkan terutama oleh aktivitas enzim yang terdapat di dalam tubuh ikan sendiri, aktivitas mikroorganisme, atau proses oksidasi pada lemak tubuh oleh oksigen dari udara. Pada tubuh ikan yang telah mengalami proses pembusukan terjadi perubahan, seperti : timbulnya bau busuk, daging menjadi kaku, sorot mata pudar, serta adanya lendir pada insang maupun tubuh bagian luar.
Setelah ikan mati, berbagai proses perubahan fisik, kimia dan organoleptik berlangsung dengan cepat. Semua proses perubahan ini akhirnya mengarah ke pembusukan. Urutan proses perubahan yang terjadi pada ikan setelah mati meliputi perubahan prerigor, rigor mortis, post rigor (aktivitas enzim, aktivitas mikroba dan oksidasi) serta pembusukan.
Ikan dikatakan masih sangat segar dalam fase rigor mortis. Selang waktu antara kematian serta untuk masuk dan melewati fase rigormortis ini bervariasi yang dipengaruhi oleh jenis ikan, kondisi ikan, tingkat kelelahan, ukuran ikan, cara penanganan ikan dan temperatur penyimpanan. Oleh karena itu, pada praktikum ini akan dilihat selang waktu antara kematian pada berbagai perlakuan dengan waktu untuk masuk dan melewati fase rigor mortis.
Tujuan dari pengolahan pepes ikan ini adalah untuk mengawetkan dan menghasilkan cita rasa khas olahan ikan yang disukai masyarakat sehingga dapat meningkatkan jumlah konsumsi ikan.
Bahan
1 ekor ikan
1 sendok makan air jeruk nipis
5 lebar daun salam
3 batang serai, potong jadi 2,memarkan
10 buah cabai rawit
25 lembar daun kemangi
2 buah tomat potong-potong
CARA PEMBUATAN :
1) Ikan disiangi dengan membuang sisik, jeroan dan insang.
2) Setelah dibuang insang, isi perut dan sisik, kemudian dicuci sampai bersih.
3) Setelah bersih kemudian ikan dilumuri dengan air jeruk nipis dan ½ sdt garam, diamkan ± 30 menit.
4) Kemudian campurkan bahan lainnya dan rendam supaya bumbu meresap.
5) Letakkan ikan di atas daun pisang, bungkus dan semat kedua ujung daunnya.
6) Kukus selama + 8 jam dalam panci pengukus, atau di presto + 3 jam.
7) Panggang di atas bara api/di dalam oven, sampai matang (air ikan tidak keluar lagi dari bungkusan).
Pengemasan Pepes Ikan dapat dilakukan menggunakan daun pisang atau plastik. Dengan daun pisang dan ditambahkan bahan plastik yang tertutup rapat maka pepes ikan dapat disimpan lama.
Pepes ikan sangat prospektif dijual di Indonesia karena merupakan makanan tradisional Indonesia. Mau berwirausaha?
Secara umum air dapat diperoleh dari dua sumber, yaitu air tanah dan air permukaan. Air tanah merupakan sumber air alami dalam bentuk mata air dan sumur. Istilah air permukaan mengacu pada seluruh air yang berada pada permukaan tanah, baik yang mengalir maupun yang berada dalam penampungan. Sumber air jenis ini dapat dijumpai antara lain dalam bentuk sungai, danau, waduk, dan irigasi.
Tubuh manusia terdiri dari 65 % air atau terdapat sekitar 47 liter air per orang dewasa. Setip hari 2,5 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari sejumlah air yang harus diganti tersebut, 1,5 liter berasal dari air minum.
Peningkatan penduduk yang terus berlangsung mengakibatkan peningkatan kebutuhan air minum. Mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan air minum. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari sumber-sumber air minum yang lain. Sumber-sumber air minum tersebut yaitu jaringan pipa air minum PDAM, mata air, sumur artesis, air tanah dangkal, air permukaan, air hujan, dan air laut.
Tuntutan masyarakat untuk mencari air minum yang higienis dan siap minum menjdaikan industri air minum dalam kemasan berkembang dengan cepat. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah perusahaan disektor industri air minum dalam kemasan dan produksi air minum kemasan.
Dewasa ini berbagai produk air minum dalam kemasan beredar dalam pasar. Produk yang beredar tersebut boleh dibilang serupa tapi tak sama, serupa isinya namun berbeda mutunya. Tidak mudah untuk menentukan mutu tiap air minum dalam kemasan jika hanya secara kasat mata.
Jadi jangan sembarangan memilih air minum anda! Tidak semua kualitas air isi ulang baik.
Bahan : 500 gr fillet ikan tenggiri, 300 ml santan kental, 2 putih telur, 2 sdt garam, 1 sdm gula pasir, 12 buah bawang merah, cincang halus, 15 batang kucai, iris halus, 150 gr tepung kanji, daun pisang untuk membungkus
Alat : Pisau, baskom, talenan, blender, timbangan, panci, penggiling daging (meat grinder), Food Processor, dan kompor.
CARA PEMBUATAN
Ikan disiangi untuk membuang kepala, sirip, insang dan jeroan, kemudian difillet sekaligus dibuang bagian kulitnya.
Daging fillet selanjutnya dicuci sampai bersih dari kotoran yang tersisa dan ditiriskan.
Daging fillet dihancurkan dengan menggunakan meat grinder/penggiling daging sampai lumat.
Daging lumat kemudian dicampur menjadi satu bersama santan kental, putih telur, garam, gula, bawang merah dan kucai, dan diaduki secara merata.
Tepung kanji sedikit demi sedikit ditambahkan dan dicampur hingga rata dalam adonan. Setelah itu, uleni adonan hingga licin dan tidak melekat di tangan.
Setelah adonan terbentuk, dilakukan pembungkusan dengan menggunakan daun pisang.
Kemudian dilakukan pengukusan atau pemanggangan diatas bara api.
Kelompok bakteri ini menghasilkan sejumlah besar asam laktat sebagai hasil akhir dari metabolisme gula (karbohidrat). Asam laktat yang dihasilkan akan menurunkan nilai pH dari lingkungan pertumbuhannya dan akan menimbulkan rasa asam. Penurunan pH pada perlakuan garam 30% adalah yang paling cepat bila dibandingkan dengan perlakuan garam lainnya. Penurunan pH tersebut pH tersebut cinderung lebih cepat sejalan dengan semakin meningkatnya konsentrasi garam yang digunakan. Ini terjadi karena garam mapu menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk dan merangsang pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat.
Bakteri asam laktat termasuk bakteri yang bersifat gram negatif, tidak membentuk spora, toleran terhadap asam, dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen, tindakan bergerak dan sebagian besar bersifat katalase negatif (Ingram, 1975 dalam Ginting, 2002). Bakteri ini terdiri dari famili Lactobacillaceae, yaitu spesies dari genus Lactobacillus dan bakteri yang termasuk dalam famili Streptococaceae, yaitu spesies dari genus Leuconostoc, Streptococcus dan Pediococcus. Jenis-jenis yang penting dari kelompok bakteri asam laktat adalah, Streptococcus, Pediococcus , Leuconostoc, dan Lactobacillus.