Potensi Indonesia yang merupakan 70% dari wilayah Nusantara, mempunyai garis pantai lebih dari 81.000 km dengan 13.667 pulau, memiliki potensi rumput laut yang cukup besar. Luas perairan serta keragaman jenis rumput laut merupakan cerminan dari potensi rumput laut Indonesia. Dari 782 jenis rumput laut Indonesia, hanya 18 jenis dari 5 genus (marga) yang sudah diperdagangkan. Dari kelima marga tersebut hanya genus Euchema dan Gracilaria yang sudah dibudidayakan (Anggadiredja et al 2006). Produksi rata-rata rumput laut Indonesia selama 5 tahun(1995-1999) sebesar 38.000 ton per tahun dipanen dari lahan seluas kurang lebih 2.500 ha (tambak dan laut). Dengan demikian, baru termanfaatkan sebesar 9,7% saja dari luas potensi lahan yang ada (Anggadiredja et al 2006).

Rumput laut di Indonesia sudah dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti lalap, sayur, kue, manisan, dan obat tradisional. Di bidang pertanian digunakan sebagai pupuk organik, dan di bidang peternakan di beberapa tempat di Kepulauan Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur ternak hewan potong diberi makanan yang dicampur dengan rumput laut. Selain itu alga sudah dimanfaatkan di bidang kedokteran, farmasi dan industri lainnya (Angka dan Suhartono 2000).   

Perkembangan industri rumput laut di Indonesia cukup menggembirakan tetapi produknya masih terbatas pada produk dasar (base products) bukan produk akhir yang langsung dapat dimanfaatkan oleh konsumen. Oleh karena itu, impor akan produk akhir rumput laut berupa senyawa hidrokoloidnya (karagenan, alginat, agar) masih terus berlanjut. Hal ini dikarenakan belum berkembangnya teknologi formulasi untuk menghasilkan end product. Kebutuhan senyawa hidrokoloid dalam negeri maupun luar negeri belum terpenuhi secara optimal. Hal ini tercermin dari masih tingginya impor ketiga hidrokoloid tersebut. Volume impor olahan rumput laut per tahun sekitar 596 ton agar-agar, 200 ton karaginan, dan 1.275 ton alginat (Anggadiredja et al 2006). Jadi prospek industri rumput laut di Indonesia cukup menjanjikan untuk produk akhir yang siap pakai dengan penguasaan teknologi dan pemasaran yang tepat agar mampu meningkatkan ekspor dan mensubstitusi impor.

Tantangan dan kendala yang dihadapi peluang bisnis rumput lautjuga cukup banyak. Tidak ada peluang tanpa suatu tantangan dan risiko. Kendalanya antara lain kualitas bahan baku sering fluktuatif, teknologi formulasi untuk menghasilkan produk siap pakai bagi industri hilirnya belum dikuasai dan berkembang, konsumen yang masih lebih percaya pada produk impor daripada produk dalam negeri, belum terjaminnya kontuinitas dan kualitas produksi dalam negeri, dan beberapa indusitri dalam negeri tidak mampu memproduksi sesuai kapasitas terpasang karena kesulitan mendapatkan bahan bakurumput laut yang berkualitas. Dengan adanya kendala seperti inilah yang merupakan tantangan bagi industri baru, untuk menentukan strategi yang tepat baik meningkatkan kualitas bahan baku, sistem manajemen terpadu, dan penguasaan teknologi dan formulasi yang perlu dikembangkan dengan inovasi baru.

Pustaka 

Angka, S. L. dan Suhartono, M. T. 2000. Bioteknologi Hasil- Hasil Laut. Bogor : PKSPL IPB.

Anggadiredja, J. T., Zatnika, A., Purwoto, H. dan Istini, S. 2006. Rumput Laut. Jakarta : Penebar Swadaya


ada pertanyaan, komentar, kritik ataupun saran?  klik disini