1. Persiapan Kolam
Lokasi budidaya sebaiknya pada ketinggian 450-900 m di atas permukaan laut. Bila ketinggian melebihi 900 m, biasanya suhu rata-rata air terlalu rendah sehingga pertumbuhan udang akan lebih lambat selama pemeliharaan. Sedangkan bila ketinggian lokasi lebih rendah dari 400 m, biasanya penggunaan air sudah sedemikian beragamnya dan banyak pencemaran, sehingga resiko terhadap keracunan pada udang akan lebih tinggi.
Bentuk kolam sebaiknya memanjang sesuai aliran air masuk dan keluar. Hal ini akan bermanfaat terhadap penggantian air yang sempurna sehingga kandungan oksigen didalam air akan tetap tinggi selama pemeliharaan.
Luas kolam tidak usah terlalu besar. Ukuran kolam 500-1000m2 akan memudahkan dalam pengeringan waktu pemanenan dan mudah dalam pengontrolannya. Dasar kolam sebaiknya tanah berpasir dan diusahakan meminimumkan lumpurnya. Lumpur yang tebal akan menyimpan busukan bahan organic sisa pakan atau kotoran udang. Apabila sekali-sekali air kolam teraduk tiba-tiba, racun-racun yang tersimpan di dalam lumpur akan larut ke badan air dan dapat membuat udang yang dipelihara mabuk/stress.
Untuk memudahkan panen, dasar kolam dibuat miring ke arah tengah dan saluran pembuangan. Di tengah-tengah kolam dibuat selokan (caren) memanjang dari saluran airmasuk sampai saluran air keluar. Ketika udang mau dipanen, air kolam dikeringkan.
Udang-udang yang akan dipanen akan terkumpul di saluran tengah kolam tanpa harus bersusah-payah untuk menangkapnya. Bila air baru dialirkan melalui saluran tengah itu, udang-udang akan dapat dipanen hidup dan tidak stress. Kedalaman air diupayakan lebih dari 80 cm. Hal ini untuk menjaga fluktuasi suhu siang dan malam tidak tinggi Apabila air kolam kurang dari 80 cm, pada siang hari air kolamakan hangat karena tertimpa sinar matahari, tetapi pada malam hari panas air akan cepat dilepaskan ke udara. Siang hari akan terasa panas dan malam hari akan terasa dingin.
Keadaan ini akan menurunkan nafsu makan udang. Kolam harus dilengkapi shelter (pelindung) yang terbuat dari belahan bambu yang dibentuk sedemikian rupa (seperti kerangka sebuah apartemen) sehingga tidak mengganggu sirkulasi air. Apartemen udang ini akan berguna untuk tempat berlindung udang ketika ia berganti kulit. Pada saat berganti kulit kondisi udang dalam keadaan lemah dan mudah diserang dan dimangsa oleh temannya yang sedang lapar. Denganadanya apartemen ini kemungkinan diserang akan menjadi kecil. Selain itu, apartemen juga sebagai tempat bertengger udang setelah selesai makan. Dengan demikian kepadatan udang di dasar dapat berkurang karena udang bisa tinggal di badan air di atasnya. Selain bambu, pelepah daun kelapa atau bahan lain yang tidak mencemari air juga bisa digunakan sebagai bahan aparemen ini.
2. Pengelolaan Air
Sumber air bisa dari pengairan irigasi, mata air atau langsung dari sungai. Yang perlu dihindari adalah bahan pencemar seperti pestisida bila air tersebut sebelumnya berasal dari pengairan sawah-sawah di atasnya.Air masuk dan keluar harus senantiasa ada sepanjang masa pemeliharaan. Lokasiyang mungkin akan terkena kekeringan di musim kemarau perlu dihindari, karena suhu air yang tinggi di musim kemarau akan menurunkan nafsu makan udang. Debit air yang cukup (k.l. 3-5 liter/ detik/1000m2 kolam) sangat dianjurkan.
Bila di sekitar lokasi memungkinkan kemasukan benih-benih ikan liar ke dalam kolam udang, air masuk dan keluar harus dilengkapi saringan. Dengan demikian kekhawatiran persaingan makanan akan dapat dihindari. Pada saat panen, kucuran air baru harus ada, untuk memudahkan panen dan menjaga kualitas udang yang dipanen.
3. Pemupukan
Penggunaan pupuk organik (kompos) lebih baik dari pada pupuk anorganik. Selain akan terhindar dari efek samping bahan-bahan kimia dan aman lingkungan, kesuburan dasar kolam akan tetap terjaga dalam jangka waktu lama.
Dosis pemupukan awal untuk penyuburan dasar kolam adalah 100 kg/1000m2 kolam. Pupuk ditebar ke seluruh permukaan dasar kolam ketika kolam diairi setinggi kl. 10 cm dan dibiarkan selama sehari. Lalu kolam diisi air penuh. Penebaran benih dilakukan setelah seminggu kemudian. Untuk menjaga kualitas air tetap tinggi, pemupukan mingguan harus dilakukan. Dosis pemupukan lanjutan adalah 20 kg/1000 m2 kolam/ minggu.
Bila akan menggunakan pupuk kandang atau lainnya, harus dipastikan pupuk tersebut sudah jadi kompos (tidak berbau), sehingga tidak akan mengganggu kesuburan air.
4. Pemeliharaan Udang di Kolam
Penebaran benih udang dilakukan seminggu setelah kolam diairi dan dipupuk. Pada saat itu jasad-jasad renik sebagai makanan alami bagi udang sudah mulai tumbuh dan berkembang baik di dasar maupun di airnya.
Ketika menebar benih udang, benih harus diaklimatisasi terlebih dahulu sebelum ditebar ke kolam. Suhu air selama pengangkutan benih seringkali tidak sama dengan suhu air kolam yang mau ditebari benih. Bila benih langsung di tebar tanpa aklimatisasi, kemungkinan benih mati massal akan sangat tinggi.
Padat penebaran untuk masa 2-3 bulan pertama adalah 30 ekor/m2. Setelah itu karena udang bertambah besar, kepadatannya dikurangi sampai 15-20 ekor/m2 untuk menjaga kepadatan udang tidak terlalu tinggi sehingga lambat tumbuhnya. Ketika pengurangan kepadatan itu, udang-udang yang cepat tumbuhnya dikelompokkan di kolam yang sama dan udang-udang yang terlambat tumbuhnya dipelihara di kolam yang lain.
5. Pakan dan Pemberian Pakan
Pemberian pakan tambahan disesuaikan dengan umur dan ukuran udang yang dipelihara. Bila dasar kolam dan airnya subur (banyak makananan alaminya), pemberian pakan buatan tidak mutlak diperlukan pada masa pemeliharaan 2 bulan pertama, tapi diberikan sekedarnya untuk mengenalkan udang dengan pakan buatan.
Dosis pakan pada pembesaran diberikan secarakan progresif, diawali dengan 1 kg/ 1000 m2 untuk minggu I. Selanjutnya dinaikkan dosisnya sebesar 0,5 kg/minggu.
6. Panen
Pemanenan udang konsumsi dilakukan bertahap sesuai dengan ukuran udang yang diminta pasar. Cara panennya cukup dengan mengeringkan air kolam sampai udang mengumpul di saluran tengah kolam (caren). Pada saat udang mengumpul di caren, air masuk harus selalu mengalir lancar supaya udang selalu tetap segar. Pengambilan udang dilakukan mulai dari caren di bagian air keluar supaya air di caren tidak keruh. Jangan menggunakan jala pada waktu panen, karena akan merusak tubuh udang. Cukup menggunakan anco (1×1 m) atau serok. Udang konsumsi yang dipanen harus segera dimasukkan ke dalam tong yang sudah berisi air es sebelum dikemas. Pemanenan udang untuk transportasi udang hidup harus dilakukan hati-hati sehingga udang tidak stres selama pengangkutan.
Sumber Pustaka
Ali F. 2004. Pedoman Praktis Budidaya Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii) di Kolam. Pusat Penelitian Limnologi (LIPI) Cibinong, Bogor.
ada pertanyaan, komentar, kritik ataupun saran? klik disini